Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dr.R.Ika Mustika, M.Pd

Artikel Umum

Bulan Bahasa Bukan Sekadar Seremonial

Dipublikasikan pada : 14 April 2016. Kategori : .

Bulan Bahasa Bukan Sekadar Seremonial
(Artikel ini dimuat pada Koran “Tribun Jabar”, Edisi Senin 26 Oktober 2015)
Bulan Oktober disebut sebagai Bulan Bahasa. tentulah yang dimaksud adalah Bulan Bahasa Indonesia. Disebut demikian karena pada bulan tersebut terjadi peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam peristiwa itu para pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan diri dalam satu simpul dikenal dengan Sumpah Pemuda yang terdiri dari tiga bagian berisi pengakuan satu tanah air, tanah air Indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Bagian ketiga isi sumpah pemuda secara tidak langsung mengakui keberadaan bahasa daerah sebagai bahasa yang hidup di wilayah Indonesia. Saat ini selain bahasa daerah, bahasa asing pun diakui keberadaannya. Pengaturan penggunaan bahasa daerah dan bahasa asing tertuang dalam UU RI No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pelaksanaannya diatur dalam PP RI No. 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa. Sejatinya penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Daerah, dan bahasa Asing dalam kehidupan sehari-hari tidak terjadi tumpang tindih karena sudah jelas pengaturan dan pelaksanaannya berdasarkan UU dan PP tersebut.
Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingati bulan Bahsa, mulai dari lomba berpidato, menulis, cerdas cermat, dan lain-lain sampai acara saresehan, lokakrya, seminar pun dilaksanakan. Lihat saja pada bulan Oktober berbagai instansi atau lembaga yang peduli terhadap penggunaan bahasa Indonesia termasuk sekolah dari tingkat satuan pendidikan dasar, menengah, Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta menggelar kegiatan seminar dengan tema yang serupa. Seluruh kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperinagati bulan Bahasa. Pertanyaan selanjutnya bagaimanakan nasib bahasa Indonesia selepas acara seremonial tersebut?
Carut-marut penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Daerah, dan bahasa Asing masih terjadi di sekeliling kita. Fakta menunjukkan sebagian orang Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa Asing. Penggunaan bahasa asing khususnya bhasa Inggris mulai mengambil alih peran bahasa Indonesia dalam berbagai kegiatan, sebagai contoh berikut ini beberapa istilah asing yang ditemui di Kota Bandung. Penamaan pusat perbelanjaan : Trans Studio Mall, Paris Van Java Mall. Hotel: Grand Aquilla Hotel, Ibis Hotel. Perumahan: Panyileukan Regency, Puteraco Gading Regency. Rumah makan: Java Restaurant, Cafe Bali. Taman rekreasi: The Ranc, Floating Market. Tempat hiburan: City Link, Bandung Elektronic Center. Nama jalan: Boulevard, Van de Venter. Juga temapat-tempat bisnis lainnya. Nama kelompok Band; The Titan, B Side. Menu makan: Fried Chiken, Special Fried Rice With Saussages juag berbagai produk lainnya banyak menggunakan istilah asing. Contoh-contoh tersebut hanya sebagian kecil dari penggunaan bahasa asing di ruang publik. Padahal tanggal 16 Maret 1995 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengindonesiaan istilah-istilah asing melalui surat Menteri Dalam Negeri Nomor 434/1021/Sj yang ditujukan kepada gubernur, bupati, dan wali kota. Saat itu berjalan dengan baik. Saat ininasib surat Mendagri tersebut tak lagi menunjukkan taringgnya bahkan terkesan longgar vsehingga masyarakat kembali menggunakan istilah-istilah asing.
Fenomena lain, sering dijumpai tokoh publik yang berasal dari kalangan artis, presenter, politikus, bahkan pejabat yang lebih bangga menggunakan bahasa asing dalam kegiatan berkomunikasi. Di samping itu juga lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku. Sebagai contoh salah seorang artis dengan inisial “S” konsisten dengan penggunaan istilah sesuatu dan olala. Bahkan artis dengan inisial “V’ sempat menjadi bahan perbincangan terkait penggunaan istilah konspirasi kemakmuran dan kudeta keinginan. Presenter dengan inisial “DB” memiliki penggunaan bahasa yang khas yakni salah keles dan betul bingit. Politikus dengan inisial “MH” menggunakan istilah kamseupay. Kemunculan istilah-istilah tersebut banyak ditiru oleh karangan geberasi muda. Ini mebuktikan bahwa penggunaan bahasa tokoh publik sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter generasi muda.
Hal ini seperti dinyatakan Fauzia (2014) yang mencermati penggunaan bahasa Indonesia tokoh publik dengan responden para mahasiswa STKIP Siliwangi Bandung. *0 % responden mengaku penggunaaan bahasa tokoh publik cenderung memengaruhi diri responden dalam berbahasa. Sekitar 20% responden tidak terpengaruh. Sementara itu, hampir 90% responden mengaku bahwa penggunaan bahasa tokoh publik memengaruhi temannya dalam berbahasa. Mereka mengakui dalam percakapan sehari-hari, teman-tema di sekitarnya sering meniru gaya berbahasa tokoh, bahkan sampai dipraktikkan dengan gesturnya. Selanjutnya Fauzia menjelaskan bahwa keadaan tersebut mencerminkan sikap bahasa yang masih rendah di kalangan generasi muda.
Fakta dan fenomena tersebut jelas sangat memprihatinkan terlebih maraknya penggunaan istilah-istilah asing di ruang publik maupoun bahasa yang digunakan tokoh publik berpengaruh terhadap perkembangan karakter generasi muda. Sementara itu. generasi muda adalah generasi penerusperadaban, ditangan merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan termasuk didalamnya masa depan bahasa Indonesia. Perlu upaya bersegera untuk menanganipermasalahan yang muncul terkait penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik jika tidak ingin bahasa Indonesia “lenyap” dari bumi Indonesia. Bukankah Bahasa Menunjukkan Bnagsa?
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, diantaranya (1) menyosialisasikan UU RI No.24 Tahun 2009, dan PP RI No.57 Tahun 2014, (2) mengimplementasikan surat Menteri Dlam Negeri Nomor 434/1021/Sj tentang kebijakan pengindonesiaan istilah-istilah asing secara ajeg, (3) melaksanakan pembinaan bahasa Indonesia melalui jalkur pendidikan formal maupun nonformal secara berkesinambungan, (4) menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat pentingnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, dan (5) menanamkan rasa cinta dan mempertebal komitmen rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia.
Seyogyanya tokoh publik mulai dari presiden, pejabat negara, politiku termasuk juga para artis menjadi panutan dalam mengunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal yang sama juga perlu menjadi perhatian pihak-pihak yang berkutat dengan dunia kepenulisan. Pada akhirnya, bulan bahasa bukan sekadar acara seremonial yang gaungnya hanya dirasakan setiap bulan Oktober melainkan dapat dirasakan setiap saat/bulan sehingga pengakuan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatua termanifestasikan melalui tindakan nyata yakni menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dan membudayakan membudayakan sikap positif terhadap bahasa Indonesia di kalangan masyarakat Indonesia.